7 Agustus 2014
Ini pertamakalinya aku keluar negeri tanpa di dampingi orang tua. Yeeeeaaay, senang tapi sedih jugaa. Sedih karena tak ada yang menemanii. Senang karena ini pertama kalinya keluar negeri sendirian dan menandakan bahwa aku bisa keluar negeri lagi lain waktu, SENDIRII. Aku kebetulan booking pesawat jam setengah tujuh pagi, jadi pagi-pagi buta aku harus sudah berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta (soetta). Sekitar jam 02.00am aku berangkat. Sesampainya di terminal tiga, pintu masuk terminal tiga menuju bandara masih di tutuup. Jadi aku harus menunggu sekitar setengah jam untuk bisa masuk ke dalam dann ternyata aku harus nunggu lagi karena loket Air*sia masih di tutup *fuihh. Setelah setengah jam akhirnya si emba penjaga loket datang, ia kemudian langsung duduk di kursi loket sambil berdandan (menyisir dan ber-makeup ria), selama hampir lima belas menit lebih. Lah mba kalo mau dandan di kantornya aja ya, memalukan dan ga profesional -_-. Setelah si emba selesai berdandan, kemudian aku menghampirinya untuk check in dan dia berkata supaya aku pergi ke mesin loket disana untuk check in by self. Padahal cek in via embanya bisa looh, kenapa males banget situh -_-. alhasil awalna ga ngerti gimana cara check in nya... pertamakali, rada udik juga haha.
Perjalanan dari Jakarta sampai ke Kuala Lumpur memakan waktu dua jam perjalanan. Selama perjalanan berasa sekali sepinya perjalanan...
Perjalanan dari Jakarta sampai ke Kuala Lumpur memakan waktu dua jam perjalanan. Selama perjalanan berasa sekali sepinya perjalanan...
Sampai di KLIA2, rasanya senaangg "yeeh berhasil untuk pertamakalinya keluar negeri sendirii, huhuuuy" wkwk. Langsung menyalain wifi untuk menghubungi temanku yang sudah sedari malam disini. Papan tanda informasi sudah sangat jelas, sehingga aku tidak perlu kuatir tersesat mencari tempat yang ingin kutuju. Bertemulah aku dengan temanku itu Lisa dan Afar, serta panitia yang ternyata sudah menjempu kami di "terminal Ketibaan". Kami bersama-sama akan menuju Akademi Kepimpinan Pengajian Tinggi (AKEPT) menaiki bus.
Kesan pertama memasuki AKEPT, "huwa it's so biiiiiiiig" Apa sih AKEPT? AKEPT itu gedung kementrian pendidikan Malaysia bagian leadership. Sampai disana aku harus mengisi form untuk pembagian kunci kamar. AKEPT pada saat itu masih sepi karena pada dasarnya acara dimulai pada tanggal 8 Agusutus keesokan harinya. Ternyata aku dan Lisa tidak mendapatkan kamar yang sama hiks, jadi kami berpisah di lantai yang berbeda. Sampailah di kamarku sendiri saat aku membuka kamarr. Wuaaah lalalala yeyeye lalala yeyeye, keceeh.
Sebenarnya di jadwal kegiatan hari ini hanya ada dinner dan ice breaking itu juga pas malamnyaa, eh ternyata ada lunch juga hoho, lumayan lapeeerr abeees. Bergabunglah aku dan teman-teman baruku yang berasal dari berbagai negara. You know what? bahasa Inggris ku termasuk biasa saja kalau dibandingkan sama temen2 ku yang pada native huhu. teman-teman luarku yang kutemui ini bicaranya cepat sekaliih, supeeeer lancaaaarrrr. Ya aku masih bisa mengerti apa yang mereka katakan, tapi kurang cepat mengolah kata yang ada di otak menjadi suatu kalimatt, arggggg.
Daan jadi lah hari pertama sebagai hari yang GAGAAAL. EHEM Hari ini aku jadi anak yang kalem pendiam tenang *aslinya mah jauhh haha, gimana engga tiap mau jawab pertanyaan dari teman baruku itu, baru mau mikir jawab ini, eh udah keduluan dijawab aja sama temanku yang sesama Indonesia. Yaaah ini karena aku kurang berlatih berbicaraaa, ini juga banyak dialami pemudapemudi Indonesia. Mereka bisa mengerti apa yang di bicarakan orang lain dalam bahasa Inggris, tetapi sulit untuk mengutarakan apa yang ingin mereka bicarakan. Aku bertekad pada hari kedua harus bisa ngomong!! semangattt
Daan jadi lah hari pertama sebagai hari yang GAGAAAL. EHEM Hari ini aku jadi anak yang kalem pendiam tenang *aslinya mah jauhh haha, gimana engga tiap mau jawab pertanyaan dari teman baruku itu, baru mau mikir jawab ini, eh udah keduluan dijawab aja sama temanku yang sesama Indonesia. Yaaah ini karena aku kurang berlatih berbicaraaa, ini juga banyak dialami pemudapemudi Indonesia. Mereka bisa mengerti apa yang di bicarakan orang lain dalam bahasa Inggris, tetapi sulit untuk mengutarakan apa yang ingin mereka bicarakan. Aku bertekad pada hari kedua harus bisa ngomong!! semangattt


